Para ilmuwan meneliti selama bertahun-tahun tentang pentingnya permainan dan tiba pada kesimpuan bahwa permainan untuk masa kanak-kanak seperti bensin mobil. Hal ini merupakan bahan bakar untuk segala aktifitas intelektual yang dilakukan anak kita. Peneliti memiliki kesepakatan universal bahwa permainan memberi suatu dasar yang kuat untuk pertumbuhan intelektual, kreativitas dan pemecahan masalah. Hal ini juga berfungsi sebagai kendaraan untuk perkembangan emosional dan ketrampilan sosial yang penting.
Di abad 21, pemecah masalah yang kreatif, pemikir yang mandiri, serta orang-orang yang ahli bersosial akan mengungguli mereka yang sekedar belajar saja. Informasi ensiklopedis telah banyak tersedia, sehingga Anda tidak terlalu perlu menghafal hal-hal yang memang tidak perlu dihafalkan. Tidak semua hal perlu diketahui oleh manusia, apalagi sebagian besar informasi telah tersedia di Google. Anda bisa mendapat jawaban untuk semua masalah yang Anda hadapi. Meskipun pendidikan di sekolah seringkali melandaskan penilaian dari sisi akademis yang sifatnya lebih seperti hafalan, seolah-olah jawaban yang benar adalah yang paling penting. Akan tetapi individu yang benar-benar kreatif, individu yang membuat kontribusi terpenting, tidka akan menemukan jawaban tepat (atas tes tulis di sekolah) tetapi mampu merumuskan masalah yang dihadapi lalu merumuskan jalan keluar atas masalahnya.
Bagaimana anak bisa berlatih untuk mengajukan pertanyaan baru dan jawaban baru? Lewat permainan. Permainan membangun ketrampilan intelektual yang serba guna dan fleksibel. Permainan adalah tempat dimana pemecahan masalah menjadi hidup. Menurut Albert Einstein, "Permainan merupakan karakter penting dalam kehidupan ilmiah yang produktif". Mitos masyarakat yang menyatakan bahwa permainan hanyalah membuang-buang waktu itu perlu dibuang jauh-jauh karena tidak ilmiah.
Permainan edukatif yang terbukti memiliki semua poin yang disebutkan pakar, ada pada ABACA Flashcard. bagaimana ABACA bisa membantu pemecahan masalah? Ketika Anda bermain ABACA dengan putra Anda yang masih kecil, Anda akan memiliki kesempatan untuk memahami dunianya, memahami karakternya, memahami kemampuan bicaranya. Ketika anak Anda menangis karena menginginkan Donat bermahkota, dan karena ingin melanjutkan permainan padahal sudah terlalu lelah disebabkan seharian bermain, maka Anda akan belajar untuk "membujuknya, berkomunikasi dengan bahasanya, dan menjalin hubungan yang positif dengannya."
Anda tahu, banyak sekali orang tua bahkan yang tidak dapat menjalin hubungan positif dengan anaknya disebabkan mereka kurang berinteraksi secara positif. Kurang dapat berkomunikasi dengan baik antar keduanya, dan sering 'berantem' dengan anaknya. Bahkan disebabkan kurangnya kesabaran orangtua, mereka memilih "benda" untuk mendiamkan perilaku anak, misalnya anak disumpal dengan kue, uang, dll, agar tangisan mereka berhenti sementara. Tapi ini bukanlah cara menyelesaikan masalah hubungan anak dengan orang tua karena anak akan kembali merengek, menangis, dan membuat pusing orang tua.
Cobalah Anda menenangkan diri Anda. Cobalah untuk memahami anak Anda. Cobalah untuk membangun hubungan positif dengannya. Adakalanya Anda harus bersikap tegas, tapi tetap sayang, agar anak tidak memegang kendali atas orangtuannya.
Untuk mencairkan suasana denga putra Anda, luangkan waktu bersamanya, bermainlah ABACA bersamanya. Anda akan saling belajar bekerjasama selama permainan, belajar menjalin komunikasi yang baik, belajar menghargai "kerja keras anak yang mencoba menjawab semua kartu dengan benar", dan mengasah imajinasinya, dan sang anak pun belajar mengatasi masalah menebak kartu-kartu agar dia bisa mendapatkan Raja Donat yang telah membuatnya jatuh hati.
Anda tahu?
ABACA ini full imajinasi dan membuat anak ketagihan. Contohnya Mama Hesha, yang dalam semalam aja anaknya hafal 4 box atau sebanyak 29 huruf hijaiyyah berharakat fathah. Bandingkan dengan alat mainan manapun yang dapat memberikan progress semacam itu? Dan tak hanya itu, putra Mama Hesha pun yang biasanya tidur jam 21.00 WIB, malah terpikirkan untuk main ABACA. Sang anak menyebut ABACA sebagai permainan, dia SAMA SEKALI TIDAK MENYADARI bahwa dia sedang menghafal huruf hijaiyyah. Luar biasa bukan?
Setiap orangtua yang sukses bermain ABACA bersama putranya pastilah telah mampu menjalin kerjasama dengan putranya, dan sang anak pun belajar bekerjasama dengan ibunya. Pun, keduanya belajar berkomunikasi dengan baik, menjalin hubungan positif dan yang terpenting menjalin hubungan emosional sehingga antara orangtua dan anak menjadi semakin dekat.
Raja Donat telah sukses membuat putranya Mama Hesha "klepek2" terkena panah cinta sang Raja Donat, sehingga tanpa disadari sang anak makin pintar membaca hijaiyyah.
Berikut testimoni keren dari Mama Hesha, seorang customer dari Bunda Arwin Laila, salah satu agen di Kediri Jawa Timur. Semoga terinspirasi.
sumber : tulisan Diena Ulfaty #Owner, Produsen dan Penemu ABACA Flashcard
Tampilkan postingan dengan label membaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label membaca. Tampilkan semua postingan
Selasa, 13 Januari 2015
Rabu, 14 Mei 2014
Belajar Membaca: Bisa Karena Biasa
Tulisan ini saya dedikasikan buat teman-teman yang bertanya tentang Cara Mengajar Anak Membaca. Semoga bermanfaat
Zaman dulu, anak 5 tahun bisa membaca adalah sesuatu yang langka. Orang tua juga jadi kecipratan bangga. Tapi saat ini, di mana dunia aksara sudah makin mewabah, akses terhadap bahan bacaan kian mudah, anak 3 tahun bisa membaca juga bukan lagi perkara langka. Persoalannya, bagaimana membuat anak-anak bisa membaca?
Berdasarkan pengalaman saya, cara mengajar anak membaca sebenarnya tidak membutuhkan hal-hal yang baku, rumit, dan sangat terstruktur. Saya memang mengajar anak pertama dengan metode yang lumayan butuh pengorbanan, yaitu metode Glen Doman. Tiap malam sibuk bikin kartu baca. Tapi lucunya, untuk mengajari anak kedua, saya hanya pakai buku tulis biasa plus pensil/balpoin. Belajarnya hanya 5 menit sebelum tidur atau pas waktu senggang. Saya pun baru memulainya pada usia 4,5 tahun.
Satu hal yang tidak berbeda antara kedua anak saya adalah, mereka sama-sama sangat suka membaca. Luqman, anak kedua, meskipun ia belum lancar baca tapi bisa bertahan lebih dari 30 menit untuk dibacakan buku. Bukan kami yang memintanya, melainkan dia sendiri yang memohon. Kadang-kadang bukan hanya orang tuanya atau kakaknya yang membacakan buku, siapa saja yang datang ke rumah, neneknya ataupun tantenya bisa saja di ‘todong’ untuk membacakan dia buku. Kesimpulannya, anak-anak sangat akrab dengan buku.
Semalam, saat saya mencicil buku To Kill a Mockingbird, saya
menemukan kisah yang menarik.
Diceritakan bahwa salah seorang tokoh
bernama Scout, saat ia memasuki kelas satu SD telah lancar membaca
koran, padahal teman-temannya yang lain baru akan diajari alfabet dan
mengeja. Kemampuannya itu membuat gurunya sedikit kesal. Sang guru
menyuruh Scout berkata pada ayahnya agar tidak mengajarinya lagi di
rumah.
Scout bingung. Ia pun berkata pada gurunya bahwa ayahnya tak pernah mengajarinya. Ayahnya terlalu sibuk. Jika pun ayahnya ada di rumah, ia malah sibuk membaca, sehingga tak sempat untuk mengajarinya membaca.
Mendengar penjelasan muridnya itu, sang guru tidak percaya dan bersikukuh agar Scout menyampaikan pesan pada ayahnya agar berhenti mengajarinya di rumah. Sang guru yakin bahwa tidaklah mungkin seorang anak bisa membaca tanpa diajari siapapun.
Rupanya, memang bukanlah belajar secara sengaja yang membuat Scout bisa membaca, melainkan karena ia selalu berada di dekat dan bahkan di pangkuan ayahnya saat sang ayah (yang seorang pengacara) membaca keras-keras koran, draft undang-undang, ataupun kitab hukum.
Karena saking seringnya hal itu dilakukan. Scout kecil akhirnya bisa memecahkan rahasia kode-kode gabungan huruf tanpa ia sadari. Ia bisa membaca sebagaimana ia bisa mengancingkan baju. Semua tanpa proses yang terstruktur. Semua mengalir sebagai sebuah kebiasaan yang terus menerus.
Nah, dari semua fakta tersebut, saya menyimpulkan bahwa, sesungguhnya BISA MEMBACA tak selalu merupakan hasil dari belajar secara terstruktur. Bisa saja hal itu adalah output dari gemar membaca.
Kalau kita tidak menetapkan target kemampuan anak berdasarkan waktu atau usia mereka, maka cara ini adalah yang paling mudah, yaitu: Membacakan buku pada anak-anak setiap hari sampai mereka memiliki ketergantungan luar biasa pada buku. Lama kelamaan hal itu akan membuat mereka tergerak sendiri untuk belajar, entah dengan meminta bantuan kita ataupun belajar dengan sendirinya. Apakah Anda percaya?
Betapa banyak anak yang digegas untuk bisa baca hanya karena syarat
untuk masuk sekolah, tapi akhirnya tak suka membaca. Menurut saya, bisa
membaca hanyalah alat, sedangkan SUKA MEMBACA adalah target utama.
Supaya keduanya tercapai, maka mengakrabkan anak-anak dengan buku sedari
kecil, itulah cara yang tepat. Tak perlu buku mahal, buku murah atau
buku bekas pun bisa, asalkan isinya bermutu/Maya A Pujiati.
Sumber : www.duniaparenting.com
Langganan:
Postingan (Atom)



