Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

Mengapa Bermain Penting untuk Anak?

Kita tentu setuju bahwa dunia anak adalah dunia bermain.
Sebagian kita khawatir apa yang dilakukan anak membawa dampak negatif bagi sang buah hati. Tak jarang, orang tua melarang anak melakukan sesuatu yang menarik perhatiannya.

Namun,
kita perlu mengingat bahwa pada masa pertumbuhannya, baik secara fisik maupun psikologisnya, apa yang dieksplorasi anak membawa pengaruh tersendiri bagi mereka.

Dalam sebuah artikel Global Studies of Childhood, Naomi Sakr, peneliti yang melakukan penelitiannya di 3 negara Arab -Maroko, Mesir, UAE- menyatakan bahwa akses informasi anak sangat penting dalam perkembangan keterampilan dan meningkatkan kepercaya-dirian anak termasuk mengekspresikan apa yang mereka lihat, dengar, rasa, melalui indera.

Pada golden age (usia emas) anak, 0 – 6 tahun, ilmu neurosains menyatakan bahwa usia ini dapat menjadi kunci dasar perkembangan anak di masa depannya. Pada usia ini, simpuls-simpuls saraf sedang terbentuk dan berkembang secara maksimal jika dirangsang dengan tepat.

Dengan kata lain,
 jika kita ingin anak mencintai segala sesuatu yang berkaitan dengan ruang angkasa, pengenalan segala hal tentang antariksa kepada anak di usia ini menjadi penting. Begitu pula jika kita ingin anak menjadi generasi Rabbani dan penghafal Al Quran, usia ini menjadi kunci mengajarkan Al Quran pada anak. Hal ini tentu sebagai akses informasi bagi anak yang kemudian diolah anak dan menjadi pengetahuan bagi mereka.

Lalu, bagaimana dengan bermain?

Tunggu dulu, mengenal ruang angkasa, mengenal Al Qur’an bahkan mengajak anak untuk menghafalnya pun tak perlu dengan hal-hal berat layaknya mahasiswa dengan membaca jurnal bukan?

Ingat bahwa ini adalah usia emas anak.

Anak dapat dengan cepat belajar dan menghafal dengan rangsangan yang tepat dan tentu tanpa mengabaikan hak anak untuk bermain.

Nah, saat ini dapat ditemui dengan mudah alat-alat permainan edukatif bagi anak, di mana anak dapat bermain sambil belajar. Kita sebagai orang tua tinggal memilih, mana yang tepat untuk buah hati.
Kalau begitu, tidak ada alasan bagi orang tua untuk melarang anak bermain dan mengeksplorasi dunianya bukan?

sumber artikel : alqolam

Selasa, 28 Juli 2015

Learning Skills with Ressa

Bagi orang tua anak adalah anugerah terbaik dalam hidup. Orang tua pastinya akan berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup anak, baik materiik dan non materiil; termasuk kebutuhan yang dapat menstimulasi potensi kecerdasan anak. Nah, cara terbaik untuk menstimulasi perkembangan mental dan potensi anak salah satunya melalui pola bermain.



Learning Skills with Ressa hadir untuk membantu orangtua mendidik anak dan memperkenalkan anak dengan beragam pengetahuan, seperti konsep matematika, ilmu pengetahuan, abjad, dan berbagai aktifitas anak lainnya.

10 seri buku Learning Skills with Ressa yang diadopsi dari Jepang ini dirancang untuk membangkitkan minat anak untuk belajar efisien dengan cara yang menyenangkan dan menarik.


Paket Ressa ini terdiri dari 10 buku + 1 board berisi 12 angka.
10 judul seri buku "Learning Skills with Ressa"
  1. Ayo belajar huruf besar!
  2. Ayo belajar huruf berhitung!
  3. Binatang sahabat kita
  4. Buku harianku
  5. Cuaca hari ini
  6. Jam berapa ini?
  7. Kenali huruf kecil
  8. Lingkungan hijau
  9. Matematika itu mengasyikkan
  10. Warna bentuk kesukaanmu.
Metode permainan ini adalah mencocokkan gambar yang ada di dalam buku dengan papan angka.

Benefit pengembangan yang dicapai :
  1. Melatih logika berpikir anak
  2. Memacu daya kreatif anak
  3. Merangsang daya imajinatif anak
  4. Menggali kemampuan kognitif
  5. Mengembangkan kemampuan dasar bahasa
  6. Memaksimalkan ketrampilan observasi dan konsentrasi anak
  7. Mengembangkan ketrampilan motorik dan koordinasi tangan-mata
  8. Mempertajam ketrampilan mewarnai dan menstimulasi ketrampilan artistik anak.
Feature Product :
  1. Terdapat 150 educative games untuk anak
  2. Tampil dengan 2 bahasa (Indonesia - English)
  3. Petunjuk permainan dihadirkan dengan tujuan mempertajam logika berpikir anak
  4. Ada tingkatan level di setiap permainan
  5. Kunci jawaban yang tersedia di setiap lembar permainan sehingga bisa dicek langsung.
  6. Target setiap permainan yang akan dicapai jelas
  7. Setiap halamannya menyajikan berbagai macam aktifitas menarik dan membuat penasaran anak.
Jadi, tunggu apa lagi?
Yuk, segera miliki buku spektakuler ini dan maksimalkan potensi serta kreatifitas anak sekarang juga.

Learning Skills with Ressa
harga jual Rp. 882.500
pembelian cash/tunai/COD diskon 15% = Rp. 750.000

Selasa, 13 Januari 2015

ABACA Flashcard : Mengapa Bermain Jauh Lebih Penting di abad 21

Para ilmuwan meneliti selama bertahun-tahun tentang pentingnya permainan dan tiba pada kesimpuan bahwa permainan untuk masa kanak-kanak seperti bensin mobil. Hal ini merupakan bahan bakar untuk segala aktifitas intelektual yang dilakukan anak kita. Peneliti memiliki kesepakatan universal bahwa permainan memberi suatu dasar yang kuat untuk pertumbuhan intelektual, kreativitas dan pemecahan masalah. Hal ini juga berfungsi sebagai kendaraan untuk perkembangan emosional dan ketrampilan sosial yang penting.

Di abad 21, pemecah masalah yang kreatif, pemikir yang mandiri, serta orang-orang yang ahli bersosial akan  mengungguli mereka yang sekedar belajar saja. Informasi ensiklopedis telah banyak tersedia, sehingga Anda tidak terlalu perlu menghafal hal-hal yang memang tidak perlu dihafalkan. Tidak semua hal perlu diketahui oleh manusia, apalagi sebagian besar informasi telah tersedia di Google. Anda bisa mendapat jawaban untuk semua masalah yang Anda hadapi. Meskipun pendidikan di sekolah seringkali melandaskan penilaian dari sisi akademis yang sifatnya lebih seperti hafalan, seolah-olah jawaban yang benar adalah yang paling penting. Akan tetapi individu yang benar-benar kreatif, individu yang membuat kontribusi terpenting, tidka akan menemukan jawaban tepat (atas tes tulis di sekolah) tetapi mampu merumuskan masalah yang dihadapi lalu merumuskan jalan keluar atas masalahnya.

Bagaimana anak bisa berlatih untuk mengajukan pertanyaan baru dan jawaban baru? Lewat permainan. Permainan membangun ketrampilan intelektual yang serba guna dan fleksibel. Permainan adalah tempat dimana pemecahan masalah menjadi hidup. Menurut Albert Einstein, "Permainan merupakan karakter penting dalam kehidupan ilmiah yang produktif". Mitos masyarakat yang menyatakan bahwa permainan hanyalah membuang-buang waktu itu perlu dibuang jauh-jauh karena tidak ilmiah.
Permainan edukatif yang terbukti memiliki semua poin yang disebutkan pakar, ada pada ABACA Flashcard. bagaimana ABACA bisa membantu pemecahan masalah? Ketika Anda bermain ABACA dengan putra Anda yang masih kecil, Anda akan memiliki kesempatan untuk memahami dunianya, memahami karakternya, memahami kemampuan bicaranya. Ketika anak Anda menangis karena menginginkan Donat bermahkota, dan karena ingin melanjutkan permainan padahal sudah terlalu lelah disebabkan seharian bermain, maka Anda akan belajar untuk "membujuknya, berkomunikasi dengan bahasanya, dan menjalin hubungan yang positif dengannya."

Anda tahu, banyak sekali orang tua bahkan yang tidak dapat menjalin hubungan positif dengan anaknya disebabkan mereka kurang berinteraksi secara positif. Kurang dapat berkomunikasi dengan baik antar keduanya, dan sering 'berantem' dengan anaknya. Bahkan disebabkan kurangnya kesabaran orangtua, mereka memilih "benda" untuk mendiamkan perilaku anak, misalnya anak disumpal dengan kue, uang, dll, agar tangisan mereka berhenti sementara. Tapi ini bukanlah cara menyelesaikan masalah hubungan anak dengan orang tua karena anak akan kembali merengek, menangis, dan membuat pusing orang tua.

Cobalah Anda menenangkan diri Anda. Cobalah untuk memahami anak Anda. Cobalah untuk membangun hubungan positif dengannya. Adakalanya Anda harus bersikap tegas, tapi tetap sayang, agar anak tidak memegang kendali atas orangtuannya.

Untuk mencairkan suasana denga putra Anda, luangkan waktu bersamanya, bermainlah ABACA bersamanya. Anda akan saling belajar bekerjasama selama permainan, belajar menjalin komunikasi yang baik, belajar menghargai "kerja keras anak yang mencoba menjawab semua kartu dengan benar", dan mengasah imajinasinya, dan sang anak pun belajar mengatasi masalah menebak kartu-kartu agar dia bisa mendapatkan Raja Donat yang telah membuatnya jatuh hati.
Anda tahu?
ABACA ini full imajinasi dan membuat anak ketagihan. Contohnya Mama Hesha, yang dalam semalam aja anaknya hafal 4 box atau sebanyak 29 huruf hijaiyyah berharakat fathah. Bandingkan dengan alat mainan manapun yang dapat memberikan progress semacam itu? Dan tak hanya itu, putra Mama Hesha pun yang biasanya tidur jam 21.00 WIB, malah terpikirkan untuk main ABACA. Sang anak menyebut ABACA sebagai permainan, dia SAMA SEKALI TIDAK MENYADARI bahwa dia sedang menghafal huruf hijaiyyah. Luar biasa bukan?

Setiap orangtua yang sukses bermain ABACA bersama putranya pastilah telah mampu menjalin kerjasama dengan putranya, dan sang anak pun belajar bekerjasama dengan ibunya. Pun, keduanya belajar berkomunikasi dengan baik, menjalin hubungan positif dan yang terpenting menjalin hubungan emosional sehingga antara orangtua dan anak menjadi semakin dekat.

Raja Donat telah sukses membuat putranya Mama Hesha "klepek2" terkena panah cinta sang Raja Donat, sehingga tanpa disadari sang anak makin pintar membaca hijaiyyah.
Berikut testimoni keren dari Mama Hesha, seorang customer dari Bunda Arwin Laila, salah satu agen di Kediri Jawa Timur. Semoga terinspirasi.
sumber : tulisan Diena Ulfaty #Owner, Produsen dan Penemu ABACA Flashcard

Minggu, 04 Januari 2015

Jangan Pernah Membanding-bandingkan Anak Selama Masa Perkembangan

 www.gayahidup.republika.co.id

Setiap anak unik. Di dunia ini tidak ada satupun manusia yang sama dengan yang lain, termasuk anak kembar.

Kecepatan perkembangan anak berbeda satu sama lain, anak yang satu dengan yang lain bisa memiliki kepribadian, minat dan bakat yang berbeda.

"Oleh karena itu janganlah terlalu membandingkan satu sama lain walaupun dengan saudara kandung sekalipun," ujar Prikolog Anak, Ine Aditya Indriani, M.Psi kepada Republika Online, Ahad (4/1).

Menurut Ine, ada tiga domain perkembangan anak, yaitu fisik, kognitif dan psiko sosial. Untuk perkembangan fisik ditandai dengan pertumbuhan tubuh dan otak, sensori dan juga kemampuan sosial.

"Ketiga domain saling memengaruhi satu sama lain," ujarnya.

Perkembangan anak ini, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama genetik, dimana disini berpedan faktor keturunan dari kedua orang tuanya. Faktor berikutnya adalah anak itu sendiri mencakup fisik, kepribadian dan kecerdasan.

 Selain itu, perkembangan anak tentu dipengaruhi oleh gizinya. Bagaimana si anak ini makan, kandungan gizi apa saja yang ia konsumsi setiap hari akan memengaruhi perkembangannya.

Faktor lainnya adalah stimulasi atau rangsangan, baik dari orang tua maupun orang-orang terdekatnya.

Faktor yang utama adalah faktor keluarga, dimana pola asuh orangtua, komunikasi orangtua-anak, urutan kelahiran, anggota keluarga lain yang tinggal satu rumah juga turut berpengaruh.

Nilai-nilai, lingkungan fisik keluarga, keadaan ekonomi, ada tidaknya masalah keluarga pun turut memengaruhi perkembangan anak. Bukan hanya itu, faktor lainnya yang juga memengaruhi adalah lingkungan, media dan budaya di sekitar anak.

sumber : www.gayahidup.republika.co.id

Jumat, 30 Mei 2014

Memilih Buku Bergizi untuk Anak

Anak-anak kita yang masih lucu-lucu, perlu kita lindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan memberi bacaan bergizi

oleh Mohammad Fauzil Adhim 

 Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Begitu judul salah satu buku kesukaan anak saya -yang sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Buku itu saya beli sewaktu jalan-jalan dengan anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin. Di rumah, kami memang biasa menjadikan toko buku sebagai tempat jalan-jalan, tujuan rekreasi, dan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi anak-anak. Meskipun kadang saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli setiap buku yang menarik, tetapi toko buku tetap menjadi tempat rekreasi terindah.

Kalau ada buku bagus seperti itu, biasanya mereka minta ibunya membacakan. Kadang lampu sudah dimatikan pun mereka masih bersemangat minta dibacakan buku. Sekarang yang lagi semangat-semangatnya membaca adalah Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak keempat kami yang usianya dua tahun satu bulan. Kadang-kadang bingung juga menghadapinya. Mata sudah mengantuk, lampu sudah dimatikan, tetapi Owi -begitu kami biasa memanggil-masih saja minta dibacakan buku. Apalagi kalau kakaknya turut serta minta dibacakan. Untunglah si sulung, Fathimah, sudah bisa mengajari adik-adiknya sekarang. Sering kalau ada buku bagus, Fathimah yang membacakan buku untuk adik-adiknya. Atau kadang Fathimah membaca buku untuk dirinya sendiri, kemudian adiknya datang ikut nimbrung mendengarkan.


foto : koleksi www.zakiyahbookstore.blogspot.com

Alhamdulillah, Fathimah sudah lancar membaca semenjak ia masih belajar di Taman Kanak-kanak. Tepatnya di TKIT Salman Al-Farisi Warungboto, Yogyakarta. Sekarang usianya tepat enam tahun, duduk di kelas satu SDIT Salman Al-Farisi Klebengan, Yogyakarta. Banyak buku yang ia sukai. Salah satunya adalah seri Ensiklopedi Bocah Muslim. Buku ini merupakan salah satu favorit anak-anak. Saking favoritnya, seri 15 Ensiklopedi Bocah Muslim sudah rusak. Padahal kami beli belum terlalu lama. Owi rupanya memanfaatkan ensiklopedi ini sebagai buku mewarnai. Sementara ia biasa menggoreskan crayon dengan kekuatan penuh.

Ada cerita tersendiri tentang Ensiklopedi Bocah Muslim ini. Sebelum beredar, saya sudah mendengar kabar dari Mas Ali Muakhir -editor di penerbit DAR! Mizan yang menerbitkan ensiklopedi tersebut. Waktu itu saya sedang berada di Bandung. Begitu pulang ke Yogya, saya ceritakan kabar dari Mas Ali ini kepada istri saya maupun kepada Fathimah dan adik-adiknya. Antusias sekali mereka. Apalagi ketika saya mendapat undangan peluncuran buku ini di Jakarta. Meskipun saya tidak bisa hadir, tetapi gambar di kartu undangan telah merangsang rasa ingin tahu mereka.

Bulan Maret 2004, ada Islamic Book Fair di Yogyakarta. Salah satu stand menjual ensiklopedi tersebut. Segera saja kami berunding. Fathimah punya celengan uang receh di rumah. Adik-adiknya punya celengan juga. Mereka berunding dan sepakat memecah semua celengan mereka. Terkumpullah uang yang membuat mata mereka berbinar-binar. “Wow, Pak. Banyak sekali!” kata Husain, anak saya yang kedua. Tapi uang sejumlah itu tetap masih kurang. Oh, ada tabungan Fathimah di sekolah. Kalau diambil mungkin mencukupi.

Esoknya tabungan itu diambil dan ternyata masih belum cukup. Lalu Fathimah berkata, “Ibu, bagaimana? Aku kepingin beli ensiklopedi.” Lalu Fathimah dan ibunya berbicara dengan saya, minta supaya ditambah dengan uang saya. Alhamdulillah, ada rezeki. Bisa buat menutupi kekurangan. Ensiklopedi pun kami beli saat itu (Fathim, alhamdulillah ya, Nak. Kita punya sesuatu yang lebih baik daripada TV. Ensiklopedi harganya lebih mahal lho daripada TV).

Kembali ke soal buku Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Hasanin segera saja memperoleh kegembiraan tersendiri ketika buku itu dibacakan ibunya. Saudara-saudaranya ikut serta. Mereka berkumpul melingkar, mengitari kaki ibunya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar cerita tentang kaos kaki yang dipakai terbalik. Mereka bergembira. Dan yang lebih menggembirakan saya, Husain dan Hasanin bersemangat pakai kaos kaki sendiri. Tapi di rumah, anak laki-laki tidak biasa pakai kaos kaki-sebagaimana saya sendiri tidak biasa memakainya. Mereka kemudian belajar pakai celana sendiri dan baju sendiri-ketika itu usia Hasanin belum mencapai tiga tahun. Dan uff… jatuh. Dua kaki masuk satu lubang. Tentu saja sulit bergerak. Dan karena tidak seimbang, segera saja Hasanin terjatuh. Dan lihat apa yang terjadi dengan kakaknya? Rupanya Husain juga demikian. Jadilah mereka saling tertawa.

O ya, masih ada buku lain yang kami beli pada kesempatan berikutnya. Aku Berani Minum Obat. Buku tipis ini memberi manfaat yang besar. Saya tidak tahu pasti apakah anak saya terpengaruh oleh buku ini atau terpengaruh oleh cara ibunya meminumkan obat yang cerdas dan menarik. Yang jelas kami syukuri, Owi sangat mudah diminumi obat. Sejak usianya belum satu setengah tahun, ia begitu mudah menerima obat yang disodorkan kepadanya. Kalau pahit? Ia akan segera meminta segelas teh.

Banyak pengalaman menarik dari kegiatan sehari-hari bergaul dengan buku. Membaca buku Aku Sayang Adik (DAR! Mizan), Fathimah menjadi lebih sayang dengan adik-adiknya. Fathimah suka menggendong adiknya, mengajaknya bermain, dan mendiamkannya apabila menangis.

Ada buku-buku lain yang mengesankan. Tetapi pada kesempatan kali ini, biarlah saya mencukupkan cerita saya sampai di sini. Ada yang lebih penting untuk saya sampaikan. Mengingat begitu kuatnya pengaruh buku -lebih-lebih pada masa kanak-kanak-maka penting sekali kita perhatikan nilai gizi buku untuk anak-anak kita. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat mempengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak anak. Inilah yang sangat perlu kita perhatikan mengingat usia mereka merupakan masa paling strategis untuk membangun fondasi kepribadian, termasuk di dalamnya fondasi paradigma berpikir, bersikap, dan bertindak. Pada masa-masa ini pula kepekaan emosi anak sangat efektif untuk diasah atau justru ditumpulkan.

Kalau David Shenk menggambarkan sebagian besar informasi yang beredar di era informasi sekarang ini sebagai kotoran dan buangan, seperti tercermin dalam judul bukunya Data Smog (Kotoran Data); dan kotoran itu menyebabkan kita mengalami brain meltdown (penurunan kemampuan otak), maka bagaimana lagi jika anak-anak yang-ibarat komputer-operating systemnya belum terbangun kokoh? 

Sama seperti bayi yang perlu dilindungi dengan memberi makanan terbaik berupa ASI, anak-anak kita yang masih lucu-lucunya itu juga perlu kita lindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan hanya memberi bacaan-bacaan bergizi. Melalui bacaan-bacaan bergizi tersebut, mereka akan memiliki kekuatan yang kokoh, imunitas yang tangguh, dan rangsangan berpikir maupun mental yang kaya.

Buku bergizi berbeda dengan buku yang menarik. Sekadar menarik saja tidak cukup sebagai alasan untuk memilih buat anak kita. Tetapi buku bergizi yang tidak menarik, sulit membuat anak bergairah membacanya, kecuali kalau orangtua menunjukkan antusiasmenya yang besar atau anak memang sudah gila membaca. Pada sebagian buku yang benar-benar bergizi, baik tulisan maupun ilustrasi, benar-benar merangsang pikiran, perasaan, dan imajinasi anak.

Menimbang Gizi Buku Anak

Bincang soal buku bergizi, apa saja sih yang menentukan gizi sebuah buku wa bil khusus buku anak-anak? Beberapa catatan berikut, mudah-mudahan bermanfaat.

Kita bicara secara ringkas saja tentang gizi buku buat anak-anak kita.  

Pertama, kita perhatikan kesesuaian buku dengan anak. Sue Bredekamp sangat menekankan aspek kesesuaian ini untuk memperoleh keberhasilan yang maksimal. Anak benar-benar menyerap manfaat yang besar tanpa harus merasa terbebani. Kesesuaian (appropriateness) itu mencakup kesesuaian usia dan kesesuaian individual.

Saya tidak hendak mendiskusikan terlalu jauh tentang kesesuaian individual ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa setiap buku anak, seharusnya sesuai dengan tahap perkembangan di usia yang menjadi bidikan buku tersebut. Tampaknya, masih banyak penerbit yang belum mampu membidik umur sasaran dengan baik. Bayangkan, ada buku anak yang ditujukan untuk anak TK hingga SD kelas enam. Ini luar biasa (luar biasa mengherankan!). Padahal karakteristik perkembangan di rentang usia itu sangat beragam dan benar-benar berbeda.

Kedua, daya rangsang buku untuk memantik gagasan-gagasan segar pada anak, baik yang secara langsung ditulis atau pun tidak. Sering saya jumpai buku-buku anak yang pesan permukaannya (surface message) bagus, tetapi di dalamnya (inner message) buruk. Sekilas isinya bergizi, tetapi tanpa disadari -kadang penulisnya pun tak sadar memantik gagasan buruk pada anak (inspiring bad).

Ketiga, kekuatan gagasan dan alur cerita. Ilustrasi yang bagus akan sangat menunjang kuatnya alur yang diciptakan penulisnya. Gagasan yang kuat dan memiliki pijakan yang mampu membangun visi anak, akan lebih bertenaga apabila disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan hidup. Kekuatan bahasa inilah pertimbangan keempat dalam menakar gizi buku anak. [www.hidayatullah.com]

Jumat, 23 Mei 2014

Ryousai Kenbo : Istri yang baik, Ibu yang bijaksana



Di Jepang ada namanya “kyoiku mama” (ibu pendidikan) para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak2 mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya di bawah didikan sang ibu.

Para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata2 mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.

Dan kemajuan ekonomi Jepang adalah karena ditopang oleh kyoiku mama ini makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan itu semua hasil didikan para kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk menstransfer ilmu saja.

Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di jaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.

Ryousai: istri yg baik
Kenbo: ibu yang bijaksana

Intinya menyerukan bahwa wanita peran terhormat sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.

Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Di Jepang peran ini kembali digalakkan karena sekarang perempuan memilih melajang menjadi wanita karier sehingga presentasi pertumbuhan penduduk muda usia produktif di negara mereka menurun.

Tentu saja kasus kekerasan remaja dan bunuh diri di Jepang pada usia sekolah terus bertambah karena tidak terpenuhinya kualitas hubungan ibu dan anak yang menunjang pertumbuhan emosi anak.

Jadi wajar pemerintahan Jepang sangat memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas, karena kemajuan bangsanya kelak pun tetap ditopang oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas karakteranak anak mereka.

Sungguh luar biasa, “ibu rumah tangga adalah profesi idaman” di Jepang. Bagaimana dg kita?

Copas dari page Majalah Ummi

Dampak Negatif Hukuman Pukul


Urusan memukul anak ini memang terbagi menjadi 2 bagian. Ada orang tua yang berpura-pura akan melakukannya (agar anak merasa takut dan tidak mengulangi perbuatannya), namun ada pula yang benar-benar melakukannya.

Penelitian yang dilakukan di University of New Hampshire mengatakan, tindakan ini akan lebih banyak dampak negatifnya ketimbang dampak positif. Menurut penelitian, memukul anak ternyata bisa memengaruhi IQ-nya. 

Para peneliti meneliti sekelompok anak, di mana ¾ di antaranya dipukul selama beberapa minggu. Setelah itu, semua anak dites IQ-nya. Empat tahun kemudian, anak-anak tersebut dites lagi IQ-nya. Dan, inilah yang para peneliti temukan: Anak yang tidak pernah dipukul memiliki skor IQ yang jauh lebih baik ketimbang mereka yang dipukul. 

Kok, bisa? Dipukul erat kaitanya dengan stres dan rasa takut. Dan, anak-anak yang harus menjalani trauma ini akan lebih sulit memusatkan perhatian dan belajar sesuatu, kata peneliti. 

Yang pasti, memukul akan meninggalkan bekas yang cukup dalam. Penelitian di Pediatrics pada tanggal 21 Oktober 2013 menunjukkan, anak-anak yang dipukul pada usia lebih kecil oleh mamanya akan menjadi agresif nantinya dalam masa kanak-kanak dibandingkan mereka yang tidak pernah dipukul. Sementara itu, dipukul oleh papanya bisa menyebabkan masalah kosakata dan bahasa pada anak. 
Menurut Michael MacKenzie, associate professor pada Columbia University School of Social Work, New York, “Efek memukul memang bisa seumur hidup, dan bukan hilang dalam jangka waktu pendek. Dan ternyata, efeknya akan lebih kuat pada mereka yang dipukul lebih dari 2 kali seminggu.” 

Studi terhadap lebih dari 1.900 keluarga di AS menemukan, sekitar 57% mama dan 40% papa memukul anak pada usia 3 tahun. Ketika anak usia 5 tahun, persentasenya menurun menjadi 52% mama dan 33% papa yang melakukannya.


Sumber: www.parenting.co.id

Rabu, 21 Mei 2014

Ibu Ini Memberi iPhone5 pada Anaknya dengan Perjanjian

Seorang ibu bernama Janell Burley Hofmann memberikan hadiah ponsel berkelas yaitu iPhone 5 kepada anaknya Gregory. Meskipun iPhone 5 merupakan barang mewah, pemberian iphone 5 ini bukan untuk memanjakan anaknya, justru ia memberi aturan atau perjanjian yang sangat ketat kepada anaknya, dan ia harus mentaatinya. Jika tidak mau taat, maka iPhone tersebut akan di minta kembali.

Perjanjian tersebut sangat positif untuk anaknya, juga sangat inspiratif untuk kita terapkan bagi anak-anak kita. Berikut Ini daftar perjanjian ibu kepada anaknya:

1. Ini (iPhone 5) adalah milik ibu. Ibu membelinya. Ibu yang membayarnya. Ibu meminjamkannya untukmu. Bukankah ibu yang terbaik?

2. Ibu harus selalu mengetahui password-nya

3. Jika teleponnya berdering, jawablah. Itu adalah sebuah telepon. Katakan halo, tunjukkan perilaku yang baik (sopan.) Jangan pernah abaikan panggilan telepon jika dilayarnya tertulis “Ibu” atau “Ayah”. Jangan pernah.

4. Berikan teleponnya kepada orang tua-mu tepat jam 7:30 malam setiap malam sekolah dan setiap akhir minggu pada jam 9 malam. Telepon tersebut akan dimatikan untuk satu malam dan akan dihidupkan kembali esok hari jam 7:30 pagi. Jika kamu tidak mau menelepon ke telepon rumah temanmu, karena takut jika orang tua-nya yang mengangkat terlebih dahulu, maka jangan menelepon atau SMS sama sekali. Dengarkan suara hatimu dan hormatilah keluarga orang lain seperti kamu ingin keluarga kita dihormati.

5. Kamu tidak akan membawa Ini (iPhone 5) ke sekolah. Ngobrol-lah secara langsung dengan orang-orang yang biasa kamu ajak chatting atau SMS. Ini adalah bekal atau skill untuk hidupmu kelak. Untuk sekolah setengah hari atau field trip sesudah sekolah akan kami pertimbangkan.

6. Jika ini (iPhone 5) jatuh kedalam toilet, terhempas ke tanah, atau menghilang di udara bebas, kamu bertanggung jawab untuk penggantian atau biaya perbaikan. Kamu bisa memotong rumput, menjaga bayi, atau menggunakan uang tabungan hadiah ulang tahun. Ini akan terjadi, kamu harus bersiap.

7. Jangan gunakan teknologi ini untuk berbohong, membodohi, atau menipu umat manusia lainnya. Jangan biarkan dirimu terlibat dalam pembicaraan yang akan menyakiti orang lain. Jadilah teman yang baik terlebih dahulu atau menjauhlah dari kemungkinan perseteruan.
8. Jangan mengirimkan SMS, email, atau mengatakan apapun yang tidak mau kamu ucapkan dalam kehidupan sehari-hari.

9. Jangan mengirimkan SMS, email, atau mengatakan apapun ke seseorang yang tidak mau kamu katakan dengan lantang ketika orang tua mereka sedang berada diruangan itu. Sensorlah dirimu sendiri.

10. Tidak boleh ada pornografi. Carilah informasi di internet yang hanya akan kamu bagikan ke Ibu secara langsung. Jika kamu memiliki pertanyaan tentang apapun, tanyalah seseorang – lebih baik lagi tanya ke Ibu atau ayahmu.

11. Matikan, diamkan, sembunyikan dari khalayak ramai. Terutama di restoran, didalam bioskop, atau ketika berbicara dengan umat manusia lain. Kamu bukanlah orang yang kejam; jangan biarkan iPhone merubah itu.

12. Jangan kirimkan atau menerima gambar/ foto dari bagian pribadi anggota tubuhmu atau orang lain. Jangan tertawa. Suatu saat kamu akan tergoda untuk melakukannya secerdas apapun dirimu. Ini sangat beresiko dan dapat menghancurkan masa muda/ kuliah/ atau masa dewasamu. Ini akan selalu jadi ide yang buruk. Dunia maya itu luas dan lebih kuat daripada dirimu. Sulit sekali menghilangkan jejak dalam skala sebesar ini – termasuk reputasi yang buruk.

13. Jangan mengambil jutaan foto dan video. Tidak perlu mendokumentasikan segalanya. Alamilah hidupmy sendiri.
Kenangan itu akan tersimpan dalam ingatanmu untuk selamanya.

14. Sesekali tinggalkan iPhone ini dirumah dan coba untuk merasa nyaman dan aman dengan keputusan itu. Ini (iPhone) bukanlah benda hidup ataupun perpanjangan dirimu. Belajarlah untuk hidup tanpanya.
Jadilah lebih besar dan lebih kuat daripada FOMO – Fear Of Missing Out (rasa takut kehilangan.)

15. Download lagu yang baru atau yang klasik atau yang berbeda dari yang didengarkan oleh jutaan orang lain yang mendengarkan hal yang sama. Generasimu memiliki akses musik yang belum pernah ada selama sejarah. Ambillah keuntungan dari hal tersebut. Perluas cakrawala-mu.

16. Sesekali mainkan permainan dengan kata-kata atau puzzles (teka-teki) atau permainan yang melatih otak.

17. Jaga matamu tetap menghadap kedepan. Lihat dunia disekelilingmu. Pandangilah jendela. Dengarkan kicauan burung. Jalan-jalan. Berbicaralah dengan orang asing. Berkelilinglah tanpa Googling.

18. Kamu pasti akan melakukan kesalahan. Ibu akan mengampil teleponmu. Kita akan duduk dan membicarakannya. Kita akan memulai dari awal lagi. Ibu dan kamu, kita selalu belajar. Ibu adalah bagian dari tim-mu. Kita melakukan ini bersama-sama.
Dan pada akhir daftar kontrak, sang ibu menulis “Kebanyakan pelajaran disini tidak hanya berlaku untuk iPhone, namun untuk kehidupan..”

Sungguh perjanjian yang sangat mendidik dan sangat bijak sana bagi anaknya. sangat cocok sekali dengan keadaan saat ini, zaman di mana kemudahan teknologi membuat kita jarang berinteraksi secara langsung kepada orang di sekitar kita.

Kita lebih suka berlama-lama sms-an, berlama lama melihat dinding facebook kita, lebih suka chating. Kita lebih suka menatap layar, dari pada harus bertemu langsung.

Padahal jika kita melakukan hal tersebut secara berlebihan, akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologis kita, khususnya kemampuan untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat.

Semoga kisah inspiratif ibu yang memberikan hadiah iPhone 5 kepada anaknya dengan perjanjian ketat di atas bisa bermanfaat bagi kita semua. (Sumber: mitrafm.com)

Selasa, 20 Mei 2014

Anakmu Bukan Anakmu

Banyak cara belajar dan merefleksikan tentang cara kita memperlakukan anak-anak kita. Salah satunya adalah membaca salah satu puisi karya Kahlil Gibran (1883-1931), seorang pujangga awal abad ke-20 yang lahir di Libanon, berjudul "Anakmu bukan Anakmu". 
Berikut kutipan puisi tersebut: 

Anak
oleh Kahlil Gibran (1883-1931)
"Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri. 

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun. 
Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.

Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau. 
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat. 
 
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap".

Kemauan Anak itu Sederhana

Setiap Anak saya lihat mainan2 bagus dan lucu di toko mainan, lalu terlihat seperti sangat ingin memilikinya,
Saya tinggal bilang:
"Maaf Angelo, kita harus beli itu dulu baru bisa memainkannya.."

Mendengar ini Anak saya pun mengerti, dan tak memaksa lagi untuk memainkannya.

Lalu, setiap Anak saya melihat mainan milik temannya yg menarik,
Dia pun berkeinginan untuk memainkannya.
Sehingga dia akan berusaha meminta ijin pada temannya tsb.

Kalau tak berhasil (tak dipinjamkan), dia akan minta tolong saya untuk meminta ijin pada temannya tsb.
Kalau ternyata tak berhasil juga, ya mau bilang apa? Masa saya paksa temannya itu untuk meminjamkan?

Ya akhirnya jadilah dia bersedih dan terlihat berusaha untuk tetap memainkannya.
Akhirnya saya pun tinggal menjelaskan:
"Angelo Maaf, Itu bukan Milikmu, tak apa ya.."

Dia pun akhirnya mengerti dan berusaha untuk mengalihkan perhatiannya ke mainan yg lain.

Namun ada satu hal yg Anak saya tampak tak mau dan tak bisa merelakan,
Yakni Waktu Bersama kami orang tuanya..

Dia tidak menuntut saya untuk membelikan dia mainan ini itu, tak juga meminta saya membawa dia ke Mall atau tempat permainan yg mahal2..

Yg dia minta dan butuhkan cuma 1:
WAKTU dari kami orang tuanya, untuk diluangkan bersama dengan dia (Quality Time).

Dia tak akan tantrum lama2 ketika tak dibelikan mainan atau tak dipinjamkan mainan oleh temannya.

Tapi dia akan sangat Kecewa dan sedih sekali ketika melihat Kami SIBUK, kurang memperhatikannya.

Yup, yg Anak mau itu Sederhana....
Apapun itu kegiatannya, asalkan bersama orang tuanya, mereka akan BAHAGIA.

Walau kita mungkin cuma duduk di dekatnya, dan memperhatikan mereka bermain, sudah cukup baginya..

Bahkan mungkin cuma 'mengekori' alias mengikuti kita pergi ke dapur saja, mereka sudah senangnya bukan main..

Yup, terkadang kita manusia lebih merasa SULIT untuk memberi WAKTU bagi anak.

Kita lebih 'rela' memberi mereka segala sesuatu berupa Materi atau kebutuhan fisik, sekalipun itu Mahal harganya - kita sangat rela..

Namun ketika mereka hanya meminta WAKTU yg berkwalitas untuk kita luangkan bersamanya,
Rasanya Suliiitttttt sekali..

Alasan yg mesti lakuin inilah itulah, padahal main inet bisa, nonton TV rutin bisa, pergi main bola sama teman bisa, dsb..

Padahal bagi anak,
Waktu Berkwalitas bersama kitalah yg Paling mereka BUTUHKAN.

Bukannya TV layar datar yg tercanggih, Smartphone yg Tertipis dan termutakhir, Mobil2 an yg menggunakan Aki yg bisa dicharge, boneka Barbie Import, dsb..

Itu semua hanyalah 'pelengkap',
Tanpa itu semua pun mereka sebenarnya sudah Senang,
Asal kita ada bersama mereka, melakukan Hal2 Sederhana namun Bermakna...

Melihat kita tersenyum dan tertawa ketika bermain bersama mereka,
Itulah HADIAH Sesungguhnya bagi anak...

Ya ya ya.... Saya semakin ke sini semakin sadar.. Bahwa yg paling dibutuhkan Anak sejatinya adalah Waktu Kebersamaan dengan Orang Tuanya...

Mungkin bagi orang lain, ada atau tidak adanya kita ya sama saja, alias Gak ngaruh apa2 buat hidup mereka..

Namun bagi Anak2 kita?
Kehadiran Kita SANGAT lah MEMPENGARUHI hidup mereka. Dengan kata lain, Sangat Penting....

Yup, kehadiran anak membuat kita merasa menjadi seperti 'Orang Penting' ya...

Semoga kita semua mampu menikmati dengan baik setiap Fase TumBang anak dengan Tulus Hati..

Untuk direnungkan:
"Sudahkah Saya sediakan Quality Time buat anak hari ini?"

~ Kids Are BEST GURU ~
(◦'⌣'◦)

Beginilah Umar bin Abdul Aziz Mendidik Anak


by Herfi G. Faizi, Lc

Ayahku Guruku

Jum’at dini hari. Seperti biasa, sebelum masyarakat datang
berkunjung, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan semua anak-anaknya.
Dari keempat istrinya, Umar memiliki tujuh belas anak, diantara mereka adalah; Ishaq, Ya’qub, Musa, Abdullah, Bakar, Ummu Amar, Ibrahim, Abdul Malik, Walid, Ashim, Abdullah, Abdul Aziz, Yazid, Zayyan, Aminah dan Ummu Abdullah.

Setelah semua berkumpul, maka saatnya Umar memulai tadarrus al-Qur’an. Dimulai dari anak yang paling tua, kemudian dilanjutkan adik-adiknya.
 Begitulah. Semua membaca al-Qur’an bergantian. Satu persatu.
Sedangkan Umar menyimak bacaan al-Qur’an anak-anaknya dengan sungguh-sungguh dan penuh ta’dhim.

 Inilah ayah yang sekaligus guru bagi anak-anaknya. Guru al-Qur’an. Meskipun Umar telah memilihkan guru-guru hebat bagi buah hatinya, namun dirinya sendiri merasa perlu terjun langsung dalam mewarnai
keilmuan mereka.
Sekalipun agenda reformasi dan kiprahnya dalam pemerintahan sangat banyak, tapi selalu ada waktu yang sangat berkualitas dengan keluarganya.

Kebersamaan dalam naungan al-Qur’an. Menciptakan iklim al-Qur’an dalam lingkungan keluarga, itu nilai penting pada tulisan seri ini.
Ketika ternyata sekedar ‘menitipkan’ anak di lembaga-lembaga pendidikan tertentu tidaklah cukup untuk membangkitkan daya dan memupuk kecenderungan anak kepada al-Qur’annya, ketika iklim dirumah tidak Qur’ani.

Nuansa al-Qur’an harus tercipta dalam lingkungan keluarga terlebih dahulu, dan Umar telah melakukan itu.
Sehingga menjadi sangat perlu kiranya setiap keluarga muslim mulai merutinkan halaqah al-Qur’an.
Disitu berkumpul antara orang tua dan anak-anak.
Bergantian membaca al-Qur’an.
Mengkaji pelajaran dari setiap ayat-ayatnya.
Dan yang menjadi guru adalah ayah.
Menarik pasti.
Sangat istimewa.
Lebih berkesan dari halaqah al-Qur’an yang diikuti oleh para anak disekolah mereka.
Karena disitu ayahnya adalah gurunya. Ini adalah satu program besar peradaban yang perlu diinstal di setiap rumah.
Harus segera dimulai walaupun di awal terasa canggung dan bingung.

Abdullah bin Umar berpesan kepada kita, “Kamu harus bersama al-Qur’an, pelajari al-Qur’an itu dan ajari anak-anakmu. Karena sesungguhnya kamu kelak akan ditanya tentang al-Qur’anmu dan dengannya kamu akan mendapat pahala, dan cukuplah al-Qur’an sebagai pemberi nasehat bagi orang yang berakal.”

Menjadi guru bagi para buah hati.
Beginilah ayah hebat mencetak generasi unggulan.

Referensi:
Kitab Fiqih Umar bin Abdul Aziz karya DR. Muhammad Syaqir
Kitab Siyar A’lam an-Nubala’ karya Syamsuddin adz-Dzahabi
Kitab Umar bin Abdul Aziz wa Ma’alim at-Tajdid wa al-Ishlah karya DR.Ali Muhammad ash-Shalabi.

Sabtu, 17 Mei 2014

Cemerlang bersama Al-Qur'an

Cemerlang bersama Al-Qur'an

Penulis : Ratna Dewi Idrus
Halaman : 75
Dimensi : 18x16 cm
Berat : 200 gram
Tahun : 2010
ISBN : 979-25-1422-0
Kategori : Anak-anak
Harga : 40000


Sinopsis :

Ayah dan Bunda, aku ingin pintar seperti pahlawan Islam. Ajarkan aku, Ayah, Bunda, al-Qur'an. Aku ingin bangga pada Islam, Ayah. Aku ingin berjilbab seperti Bunda. Aku juga mau hidup tak sombong seperti Rasul. Aku juga ingin seperti Ayah dan Bunda, yang selalu senyum dan tak suka marah. Ayah, Bunda, ceritakan padaku bagaimana aku bisa seperti itu. Ajarkan aku, Ayah, Bunda, cerita dalam al-Qur'an yang sering engkau bacakan. Aku suka!

"...Bagian penting pada pembentukan kepribadian anak, bahkan orang dewasa. Betapa banyak al-Quran mendidk kita melalui cerita." Ir.H.Cholid Mahmud, MT(Ulama dan intelektual DDII dan Ikatan Dai Indonesia).

Chit-chat Halo Balita



Bunda : Ayah, bunda ikut arisan paket buku Halo Balita ya, buat dedek.
Ayah   : berapaan bund?
Bunda : 199.000/bln selama 10 bulan yah
Ayah   : Kok mahal amat bund? Buku apa itu kok mahal? perbulannya kokberat gitu?
Bunda : paket buku Halo Balita yah,dikemas utk usia balita. Sepaket dapet 26 jilid buku boardbook dan bonus 3 buah boneka tangan yah,nggak mudah robek kok.
Ayah   : boleh deh bund, yg penting bermanfaat utk dedek dan kebutuhan sehari2 kita masih cukup ya bunda, hehehehe....
Bunda : Aamin, insyaAlloh yah, tenang aja, nggak minta nambah uang belanja kok.


2 bulan kemudian,

Ayah   : Bund, kok ayah lihat setiap hari memasukkan uang Rp.7000 ke amplop itu? Buat apa?
Bunda : lho? Ayah lupa ? Bunda kan ikut arisan buku Halo balita? Ayah bilang kan 199.000/bln itu mahal dan berat, Jadi bunda bikin jd ringan dengan cara menyisihkan uang belanja Rp.7000/hari. Beli diapers yg sebulan habis 100.000 aja bisa dijalanin padahal habis dibuang, ini hanya 7000/hari utk tabungan masa depan anak masa' nggak bisa. Daaan nggak terasa kan sudah 2 bulan ini bunda bisa bayar iuran arisannya dari tabungan amplop ini.
Ayah   : Wah bunda memang pintar, bunda memikirkan masa depan anak kita dgn menyiapkan bacaan bermutu sejak balita namun jg memikirkan bagaimana cara agar tetap tidak boros. Ayah makin sayang sama bunda.
Bunda : terimakasih yah, berarti setelah halo balita selesai boleh ikut arisan buku utk usia lanjutannya ya yah? Ada Ensiklopedi Bocah Muslim ,cukup 9.500/hari kok.
Ayah   : iya boleh bunda..



Ada yg masih merasa berat mau ikut arisan buku untuk tabungan masa depan anak ??
Yuk daftar sekarang dan mulai menabung ,

ayooo ayah-bunda, ikut arisan buku,
arisan buku dibuka tiap bulan ya,
hubungi : 0857 9098 5223 (nunin) atau add dan inbox fb saya NuNin- RusLi

Apa Arti Namaku?

Apa Arti Namaku?

Penulis : Ratna Dewi Idrus
Halaman : 15
Dimensi :
Berat : 30
Tahun :
ISBN : 979-25-7417-4
Kategori : Anak-anak
Harga : 8000

Di rumah mungil ini, hiduplah seorang anak kecil bernama Annida dan kedua orang tuanya. Walaupun rumah itu sederhana, namun punya banyak cerita yang berharga untuk dibagikan kepada teman-teman.

Suatu hari. Annida dan bunda sedang asyik menonton sinetron televisi. Katrina judulnya. Yang bercerita tentang seorang anak yatim bernama Katrina. Ia cantik dan cerdas. Hari demi hari, nama Katrina begitu melekat di hati Annida.

Sore itu, bunda mengajak Annida ikut TPA agar Annida cinta ke masjid dan akrab dengan lingkungan. Ketika melihat Annida datang, anak-anak ingin berkenalan. “Nama kamu siapa?” tanya mereka, satu demi satu mengulurkan tangannya. Annida membalas uluran tangan tersebut sambil berkata, “Katrina.” Jawabnya.

Akhirnya Annida pun pulang setelah antri mengaji. Sesampai di rumah, bunda bertanya. “Sayang, mengapa tadi Annida berganti nama?” Dengan jengkel Annida berkata. “Nama saya Katrina bunda. Bukan Annida! Nama Katrina lebih bagus daripada Annida.” Mendengar jawaban itu, bunda terdiam.

Kejadian itu berlangsung beberapa hari, setiap ada yang bertanya namanya siapa, Annida selalu menjawab “Katrina”. Bunda dan ayah jadi bingung dibuatnya.

Aku Tidak Sombong

Aku Tidak Sombong

Penulis : Ratna Dewi Idrus
Halaman : 15
Dimensi :
Berat : 31
Tahun :
ISBN : 979-25-7419-0
Kategori : Anak-anak
Harga : 8000


Mulanya Annida merasa bangga karena bisa mengalahkan teman-temannya dalam pelajaran Iqro', ditambah pujian yang diberikan oleh guru TPAnya. Melalui cerita bunda tentang iblis yang sombong karena merasa dirinya lebih baik dari pada manusia hingga Allah murka dan menyuruh iblis turun dari surga. Sadarlah Annida bahwa Allah tidak suka dengan orang yang sombong dan membanggakan diri. Karena semua manusia yang diciptakan Allah punya keistimewaan masing-masing, begitu juga dengan teman-teman...

Jumat, 16 Mei 2014

Arisan Buku

apa kabar Ayah Bunda? ^-^
 
tiap hari masih punya kembalian belanja sayur kan??
yuuk kita sulap uang kembalian belanjanya menjadi sesuatu yg berguna buat buah hati kita....
apa ituuuu??
yaaa #arisan_buku_bergizi doong
arisan bukan sembarang arisan looh!
investasi sepanjang jaman....
mulai dengan uang 2500/hr bunda sudah bisa miliki bukunya


 
Ikut arisan buku yuk.......
Ini nich list arisannya yaa:

Halo Balita 199ribu/bln
E-pen Halo Balita 100ribu/bln
Ensiklopedi Bocah Muslim 288ribu/bln
Confidence in Science per set 66rb/bln
Confidence In Science full set 196rb/bln

E-pen Confidence In Science 100rb/bln
Wow Amazing Series 223rb/bln

Arisan selama 10 bulan yaa..
Bismillah, diniatkan karena Alloh, semoga jadi sarana Al-Ummu Madrosatil Ula di rumah...
Semoga semua dimudahkan rezekinya oleh Alloh. Aamiin

Orangtua Idaman



Sebagai orang tua mungkin kita sering marah-marah, sering dibuat kesal,karena anak-anak rewel, bikin rumah berantakan, berkelahi dengan adik/kakak. Kita mungkin juga sering kehilangan kesabaran, karena anak-anak makannya lelet dan air minum tumpah kemana-mana. Atau kita juga mungkin jadi naik pitam karena anak-anak. Disuruh mandi tidak mau, disuruh belajar ogah-ogahan, disuruh beresin mainan malah kabur...
Tidak sekali mereka membuat kepala kita pusing, karena berbagai macam ulah mereka. Kita juga sering kecapean krn baru pulang kerja, mereka ngajak main, minta bikinin itu & itu.....

Tapi Ayah/Bunda, 

semua itu tidak akan lama, 
karena anak-anak tak selamanya kecil, mereka tak selamanya bermain, mereka tak selamanya membutuhkan kita.
Suatu saat mereka akan melepaskan tangannya saat kita genggam.
Menghapus pipinya saat kita cium, menghindar saat kita peluk.
Suatu saat mereka akan mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri.
Mungkin suatu saat teman lebih penting bagi mereka dan saat itupun kita hanya bisa merindukannya.
Nanti kita akan merindukan masa-masa sulit dulu, rindu ingin ngelonin mereka, rindu ingin memeluknya, rindu mendengarkan celotehannya.
biarlah hari ini kita lelah, karena kelelahan bersama kelucuan mereka itu lebih baik daripada tidak ada celotehan, tangisan, teriakan sama sekali di rumah kita.

"BERSYUKUR & BERSABARLAH ADALAH KUNCINYA".
Kelak DIA sang pencipta akan menambahkan nikmatNYA & memudahkan segala urusan kita. Amin..

(sumber: London Kids)

Aku Tidak Mau Marah

Aku Tidak Mau Marah

Penulis : Ratna Dewi Idrus
Halaman :
Dimensi :
Berat :
Tahun :
ISBN :
Kategori : Anak-anak
Harga : 8000

Entah mengapa hari itu Annida suka marah-marah. Hal ini membuat bunda mengacuhkannya. Akhirnya Annida tidak tahan dan meminta maaf pada sang bunda. Mendengar nasihat bunda yang menjelaskan bahwa orang yang bisa menahan marah bisa masuk surga, Annida bersemangat untuk tidak mau marah. Teman-teman tentunya juga ingin masuk surga kan? Sejak saat ini kita berjanji tidak akan marah yuk..., Amin.

Kamis, 15 Mei 2014

Keikhlasan Ibu

Muhasabah menjelang tidur..
===

"Ummi nggak ikhlas! Sekarang juga kamu minta maaf!”

Rasanya lisanku sudah tak terkontrol. Kulihat Haris tampak diam dan takut.

”Ayo, minta maaf sama Ummi!”

”Ma-af, Mi...” dengan terbata Haris berucap.

”Ya sudah, Ummi maafkan. Sekarang kamu mandi sama Mbak!" kataku.

Ucapan ”Ummi maafkan” sepertinya hanya sekadar saja keluar dari mulutku.

Amarah dan kecewa anakku mengucapkan kalimat ”Entar, Bego...” masih menggumpal di dadaku.

***

Keesokan harinya, amarahku sudah terkikis. Sore hari aku mengecek pelajaran Haris. aku ingat esok hari Haris ada tugas mengulang mengulang hafalan.

”Ah, surat-surat yang mesti diulang hampir semua sudah Haris
hafal. Insya Allah, Haris bisa,” kataku yakin.

Setelah itu aku membantu Haris untuk mengulang hafalan.

”Ayo, baca bismillah dulu, Ris...”

"Bis...” suara Haris terputus.

”Lho kok, bis... bis-millah...”

”Bis...” lagi-lagi suara Haris terputus.

”Haris... jangan bercanda. Ayat Al Quran jangan dipermainkan. Ayo ulang lagi, bismillah...”

”Bis...”

”Haris!” emosiku mulai naik.

”Tapi, Mi... Haris nggak bisa...”

”Masak bismillah saja tidak bisa, bis-mi-Allah...”

Haris mencoba mengulang, tapi lagi-lagi terhenti di kata ”bis”.

Aku benar-benar tak habis pikir.

”Haris! Ummi serius ini. Kamu jangan bercanda mempermainkan ayat Al Quran! Coba, A-L-L-A-H...”

”A.... A... Ummi haris nggak bisa...”

”A-L-L-A-H.... ulang lagi... A-L-L-A-H… BISMILLAH…”

“A…. A…”

Aku mulai panik.

Kuamati wajah Haris. Dia tak terlihat bercanda atau mempermainkanku.

“Istighfar dulu, Ris, As-tag-fi-ru-llah…”

”Astagfiru...” lagi-lagi suara Haris terputus.

Aku semakin panik. Ada apa dengan anakku?
Padahal dia sudah hafal setengah juz 30.

Bagaimana mungkin menyebut ”bismillah”, ”astagfirullah,” bahkan ”Allah” saja tak bisa?

Aku berusaha menenangkan diri.

”Yuk, bareng Ummi... kita istighfar...”

”Astagfirullah...”

Namun lagi-lagi, Haris tak dapat menyelesaikan kalimat tersebut.

Aku benar-benar tak habis pikir.

Beberapa kali kuminta Haris mengulang kata Allah, Allah, Allah.. tak juga bisa.

Tiba-tiba runtunan kejadian kemarin berkelebat di otakku.

”Astagfirullah....” kuucap berulang kali.... Kalimat ”Ummi tidak ikhlas” terngiang-ngiang. Inikah yang menyebabkan Haris tak dapat menyebut kata Allah?

Tapi bagaimana mungkin?

Haris masih kecil, baru 6 tahun...

Namun, tak ada yang tak mungkin bagi Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya. Langsung kupeluk Haris, air mata berbulir jatuh.

”Maafkan Ummi, ya, Ris... maafkan,

Ummi. Ummi juga memaafkan semua kekhilafan Haris. Ummi maafkan kesalahan Haris...”

Kupeluk Haris makin erat. Haris tampak tak mengerti. Air mataku menderas.

”Maafkan Ummi... dan Ummi maafkan Haris...”

Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku minta Haris untuk sama-sama membaca istighfar kembali.

Dan... subhanallah... tanpa kesulitan Haris mengucap dengan lancar. Dan kemudian kalimat bismillah, dan kemudian surat-surat Al Quran yang hendak ia ulang, semua lancar dibaca.

Subhanallah,
Allahu Akbar...
betapa kecil kurasa diriku saat itu.

Teringat aku kisah Al Qomah pada masa Rasulullah, yang mulutnya terkunci tak dapat mengucap ”Laailahailallah” saat sakaratul maut karena sang Ibu tak ikhlas padanya.

Aku bersimpuh.... Ampuni aku, ya Allah....

-

Sumber: group SDIT Ibadurrohman Tasikmalaya

Diteruskan oleh twitter.com/ilmaalya dalam grup diskusi WhatsApp twitter.com/SuperbMother

Rabu, 14 Mei 2014

4 Aktivitas Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Yuk, praktikkan empat aktivitas berikut ini agar tumbuh kembang anak jadi lebih optimal. Dijamin, si kecil jadi makin pintar, Bu!

Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang mengalami tumbuh kembang optimal. Untuk itu, sejak masih bayi, buah hatimu harus terus distimulasi dengan berbagai aktivitas agar kemampuan motorik kasar dan motorik halusnya semakin meningkat. Inilah 4 aktivitas yang bisa kamu lakukan bersama bayi agar kecerdasan si buah hati terus bertambah.

1. Menyentuhnya

“Sentuhan adalah kebutuhan utama bayi,” kata Dr. Jean Clinton dari McMaster University, Hamilton, Ontario, Kanada. Itu sebabnya, bayi sangat suka bila digendong. Bahkan, mengangkatnya dari atau menaruhnya ke tempat tidur bisa sangat penting baginya, karena bayi akan bisa merasakan batas antara tubuhnya dan tubuh orang lain. Si bayi pun jadi mengerti atau bisa membedakan momen ketika dia sedang sendiri, atau ketika sedang bersama orang lain. Jadi, belailah anakmu sesering mungkin dan saat menggendongnya, dekap dia agar bisa merasakan hangatnya sentuhanmu, Bu!

2. Bermain Bersamanya

Ketika si kecil sudah mulai mengenali orang-orang dan lingkungan sekitarnya, ia akan senang bermain. Salah satu permainan yang paling disukai oleh bayi dan ternyata juga penting bagi perkembangan otaknya adalah permainan ciluk-ba. Lewat permainan itu, bayi akan belajar bahwa barang atau orang itu bisa hilang dan bisa muncul lagi. Kamu juga bisa mengajarkan bahwa ketika dia tidak bisa melihatmu, kamu tetap ada di dekatnya. Ketika anakmu sudah mulai besar, ajak dia bermain mencari barang yang disembunyikan di dekatnya. Buah hatimu pun akan belajar untuk berpikir sambil berusaha menemukan barangnya.

3. Membaca Untuknya

Jangan tunggu hingga anak berusia pra-sekolah baru mengajaknya membaca buku sama-sama. Kamu sudah bisa membacakan cerita untuknya sejak bayi, atau bahkan sejak kamu masih hamil. Apalagi, sekarang ini sudah ada berbagai buku dengan desain dan cerita menarik untuk para bayi kecil. Jadi, mereka bisa menajamkan indera-inderanya sambil “membaca” buku bersama kamu. Dari melihat gambar yang menarik, menekan tombol-tombol yang ada di buku, dan mendengar bunyi-bunyian yang dihasilkan. Riset membuktikan, para bayi baru lahir ternyata bisa mengenali buku yang dibaca oleh ibunya saat masih berada dalam kandungan. Luar biasa, bukan?

4. Berbicara Dengannya
Bayi kecil mungkin belum bisa menjawab ketika kamu mengajaknya bicara. Dia juga belum tentu memahami apa yang kamu katakan. Tapi mengajaknya bicara sejak masih bayi bisa membantunya mengembangkan kosa katanya nanti. Bayi yang sering diajak “ngobrol” oleh ibunya biasanya akan mulai belajar bicara (“gu-gu”, “da-da”) lebih cepat. Bahasa pertamanya ini adalah ekspresi bayi akan kebutuhannya untuk mulai berkomunikasi dengan orangtuanya. Karenanya, cobalah untuk lebih cerewet saat bersama bayi. Ajak dia bicara saat kamu mengganti popoknya, saat akan makan, atau saat bermain bersamanya. Ini bisa membuat anakmu lebih pintar bicara dan punya kosakata yang lebih banyak saat dia besar nanti.

http://on.fb.me/1dEP3fD