Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Januari 2015

Jangan Pernah Membanding-bandingkan Anak Selama Masa Perkembangan

 www.gayahidup.republika.co.id

Setiap anak unik. Di dunia ini tidak ada satupun manusia yang sama dengan yang lain, termasuk anak kembar.

Kecepatan perkembangan anak berbeda satu sama lain, anak yang satu dengan yang lain bisa memiliki kepribadian, minat dan bakat yang berbeda.

"Oleh karena itu janganlah terlalu membandingkan satu sama lain walaupun dengan saudara kandung sekalipun," ujar Prikolog Anak, Ine Aditya Indriani, M.Psi kepada Republika Online, Ahad (4/1).

Menurut Ine, ada tiga domain perkembangan anak, yaitu fisik, kognitif dan psiko sosial. Untuk perkembangan fisik ditandai dengan pertumbuhan tubuh dan otak, sensori dan juga kemampuan sosial.

"Ketiga domain saling memengaruhi satu sama lain," ujarnya.

Perkembangan anak ini, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama genetik, dimana disini berpedan faktor keturunan dari kedua orang tuanya. Faktor berikutnya adalah anak itu sendiri mencakup fisik, kepribadian dan kecerdasan.

 Selain itu, perkembangan anak tentu dipengaruhi oleh gizinya. Bagaimana si anak ini makan, kandungan gizi apa saja yang ia konsumsi setiap hari akan memengaruhi perkembangannya.

Faktor lainnya adalah stimulasi atau rangsangan, baik dari orang tua maupun orang-orang terdekatnya.

Faktor yang utama adalah faktor keluarga, dimana pola asuh orangtua, komunikasi orangtua-anak, urutan kelahiran, anggota keluarga lain yang tinggal satu rumah juga turut berpengaruh.

Nilai-nilai, lingkungan fisik keluarga, keadaan ekonomi, ada tidaknya masalah keluarga pun turut memengaruhi perkembangan anak. Bukan hanya itu, faktor lainnya yang juga memengaruhi adalah lingkungan, media dan budaya di sekitar anak.

sumber : www.gayahidup.republika.co.id

Selasa, 20 Mei 2014

Melepas Suami Pergi Mencari Nafkah

Sebuah episode kehidupan .
---
“Bun, pergi yah…” teriak ayah di belakang motornya yang sudah siap melaju.
“Iya, ati-ati…”, teriak bunda tak kalah keras sambil terus melanjutkan cucian piringnya
yang belum selesai.
---
Tapi itu masih lumayan dibanding yang berikut:
“Lho ayah kemana, kok sudah nggak ada?” tanya Bunda ke kakak yang sedang asyik main boneka.
“Kayaknya sudah berangkat deh Bun, waktu Bunda lagi cuci baju di belakang” jawab
kakak.
---
Hmm… jadi penasaran, apa yang dilakukan Rasulullah ketika pergi meninggalkan rumah?
---
‘Aisyah berkata : “Rasulullah menciumku, kemudian beliau pergi ke mesjid untuk melakukan shalat tanpa memperbarui wudlunya” (HR Abdurrazaq, Ibnu Majjah, Aththabrani, dan Daraqutni)
---
Sebelum meninggalkan rumah, tak lupa Rasulullah SAW berdoa:
"Bismillaahi Tawakkaltu ‘Alallaah Laa Haula wa Laa Quwwata Illaa Billaah"
Artinya:
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya.”
---
Dilanjutkan dengan doa ini:
"Allaahumma Innii A’udzubika an Adhilla au Udhalla, au Azilla au Uzalla, au Azlima Au Uzlama, au Ajhala au Yujhal ‘Alayya"
Artinya:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesesatan diriku atau disesatkan orang lain, dari ketergelinciran diriku atau digelincirkan orang lain, dari menzhalimi diriku atau
dizhalimi orang lain, dari berbuat bodoh atau dijahilkan orang lain.”
---
Subhanallah….
Ternyata begitulah cara suami meninggalkan istrinya di rumah. Sungguh indah, penuh kesan.

Mencium dan mendoakan. Mudah dan sederhana, tapi dalam maknanya.
---
Kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.
Sebagaimana kita tahu, melepas suami pergi bekerja itu adalah sama dengan melepas suami pergi berjihad.
---
Apakah kenangan saling berteriak itu yang ingin kita kenang dalam melepas kepergian suami? Atau kenangan suami “hilang” begitu saja tanpa pamit?
Tentu tidak.
---
Sepanjang sisa hari, sang istri akan teringat ciuman di kening…
Suami pun pergi tenang dengan membawa kenangan wangi rambut istrinya. Plus bonus senyuman terindah yang diberikan sang istri tercinta yang melepas kepergiannya di depan pintu rumah.
---
Dalam doa yang dipanjatkan, ada makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Menitipkan anggota keluarga yang dicintai hanya kepada Allah. Memohon perlindungan
bagi fitnah dunia yang mungkin terjadi.
---
Suami: Cium kening dan doakan Istri tercinta…
Istri: Antarlah suami hingga ke pintu depan.
Lepas kepergiannya dengan mengamini doanya dan berikan senyuman terindah.
---
Semarah apapun kita saat berpisah, jangan pernah lupa saling berpamitan dengan baik.
Sekali lagi karena kita tak tahu kapan ajal menjemput.


Jadi bagaimana, berani terima tantangan ini? ^-^

Sabtu, 17 Mei 2014

Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga

Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga

Penulis : Dra. Sulastiningsih, M.Si
Halaman : 180
Dimensi : 13,5x19,5 cm
Berat : 210 gram
Tahun : 2008
ISBN : 979-1273-27-8
Kategori : Keuangan Keluarga
Harga : 24000


Sinopsis :

Keluarga sakinah merupakan idaman setiap Muslim, baik yang akan maupun yang telah berumah tangga. Salah satu pilar penopang keluarga sakinah adalah kerapian mengelola keuangan. Keuangan keluarga menjadi penting, bukan hanya untuk kepentingan di dunia namun juga untuk kepentingan akhirat.

Di sisi lain, keluarga sakinah bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi persoalan; bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi kesulitan keuangan. Keluarga sakinah, sebagaimana keluarga pada umumnya, penuh dengan dinamika.

Buku ini memaparkan karakter keluarga sakinah dalam menghadapi persoalan rumah tangga, terutama dalam mengelola keuangan. Masalah keuangan yang dibahas dalam buku ini meliputi: merencanakan penerimaan keluarga; merencanakan pengeluaran keluarga; mengendalikan keuangan keluarga; manajemen kas keluarga; laporan keuangan keluarga; manajemen aset. Selain itu, buku ini membahas bagaimana peran seorang ibu dalam keluarga Sakinah terkait dengan upaya mencari nafkah.

Sebagai panduan praktis, buku ini membahas dan memberikan contoh aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, dengan menyertakan tips, contoh dan pengalaman nyata keluarga Muslim. Dengan demikian, pembaca dapat mendapatkan pembanding, sebagai inspirasi membina rumah tangga sakinah masing-masing; insya Allah.

Jumat, 16 Mei 2014

Orangtua Idaman



Sebagai orang tua mungkin kita sering marah-marah, sering dibuat kesal,karena anak-anak rewel, bikin rumah berantakan, berkelahi dengan adik/kakak. Kita mungkin juga sering kehilangan kesabaran, karena anak-anak makannya lelet dan air minum tumpah kemana-mana. Atau kita juga mungkin jadi naik pitam karena anak-anak. Disuruh mandi tidak mau, disuruh belajar ogah-ogahan, disuruh beresin mainan malah kabur...
Tidak sekali mereka membuat kepala kita pusing, karena berbagai macam ulah mereka. Kita juga sering kecapean krn baru pulang kerja, mereka ngajak main, minta bikinin itu & itu.....

Tapi Ayah/Bunda, 

semua itu tidak akan lama, 
karena anak-anak tak selamanya kecil, mereka tak selamanya bermain, mereka tak selamanya membutuhkan kita.
Suatu saat mereka akan melepaskan tangannya saat kita genggam.
Menghapus pipinya saat kita cium, menghindar saat kita peluk.
Suatu saat mereka akan mandi sendiri, makan sendiri, tidur sendiri.
Mungkin suatu saat teman lebih penting bagi mereka dan saat itupun kita hanya bisa merindukannya.
Nanti kita akan merindukan masa-masa sulit dulu, rindu ingin ngelonin mereka, rindu ingin memeluknya, rindu mendengarkan celotehannya.
biarlah hari ini kita lelah, karena kelelahan bersama kelucuan mereka itu lebih baik daripada tidak ada celotehan, tangisan, teriakan sama sekali di rumah kita.

"BERSYUKUR & BERSABARLAH ADALAH KUNCINYA".
Kelak DIA sang pencipta akan menambahkan nikmatNYA & memudahkan segala urusan kita. Amin..

(sumber: London Kids)

Aku Punya Bayi

Aku Punya Bayi

Penulis : Ummu Syifa Jauza
Halaman : 184
Dimensi : 13,5x19,5 cm
Berat : 180 gram
Tahun : 2009
ISBN : 979-1273- 57-X
Kategori : Kesehatan Keluarga
Harga : 24000

Sinopsis :

Dua garis muncul pada testpack… sebuah isyarat positif munculnya buah hati telah terlihat. Kebahagiaan terpancar dari wajah sang calon ayah dan ibu. Namun, kegembiraan itu tidak muncul sendirian, tidak jarang kekhawatiran juga menyeruak, terutama bagi pasangan yang baru pertama kali akan punya anak.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Apa yang harus dipersiapkan? Apa yang harus dilakukan? Mengapa begini? Mengapa begitu?” mungkin akan muncul. Karenanya, bersiaplah sedini mungkin untuk menyambutnya. Pelajari ilmunya serta kenali gejalanya agar bisa memberikan perlakuan terbaik.

Buku yang sangat praktis ini insya Allah akan membantu menjawab berbagai permasalahan yang mungkin Anda alami, mulai dari tanda pertama adanya kehidupan di rahim hingga berujung pada perjuangan melahirkannya; mitos-mitos yang sering berhubungan dengan kehamilan, bagaimana merawat kehamilan, bagaimana mengatasi permasalahan yang sering terjadi hingga bagaimana cara merawat sang buah hati.

“Di kala banyak orang sibuk mencari informasi ke sana-sini, buku ini hadir ke tengah-tengah kita, dengan story yang sangat lengkap, dari A sampai Z… Sebuah bacaan wajib bagi Anda yang sedang menyongsong kelahiran sang bayi.”
(dr. Arief L. Hakim, konsultan kesehatan di situs www.drarief.com)

“Buku ini sangat efektif dan bermanfaat sebagai pegangan untuk calon ibu yang sedang menunggu kehadiran buah hatinya, ringkas tapi padat isinya..”
(dr. Ririn Mardiastuty, alumni FK UGM)

Agar Suami Menjadi Pemimpin Sejati

Agar Suami Menjadi Pemimpin Sejati

Penulis : Nur Hayati Pujiastuti
Halaman : 188
Dimensi : 14x20 cm
Berat : 183
Tahun : 2011
ISBN : 979-1273-72-3
Kategori : Keluarga
Harga : 25000

Penulis : Nurhayati Pujiastuti

Setiap wanita pasti menginginkan lelaki yang menjadi suaminya adalah laki-laki yang bisa membimbingnya dan dijadikan imam, pemimpin, dalam rumah tangganya. Tapi kenyataannya, banyak rumah tangga yang lelakinya tidak bisa diharapkan menjadi imam, sedang si istri memiliki kebutuhan sangat tinggi akan keberadaan imam untuk rumah tangganya.

Kenapa harus ada seorang imam dalam rumah tangga? Kenapa harus laki-laki yang menjadi imam dalam rumah tangga? Kenapa rumah tangga tidak cukup berorientasi dunia saja, sehingga tidak ribet mengurusi urusan yang masih jauh, akhirat?

Pertanyaan seperti itu layak ditanyakan para bunda yang memang belum mengerti makna kepemimpinan dalam rumah tangga. Terlebih masih merasa bahwa rumah tangga sudah berjalan dengan baik, semua menikmatinya meskipun tanpa konsep imam yang jelas.

Buku ini membahas pentingnya para istri membantu suami menjadi pemimpin sejati dalam rumah tangga. Bahasannya antara lain meliputi: pentingnya imam dalam keluarga; mengenal pasangan; menumbuhkan kepemimpinan pada pasangan; cara mengatasi hambatan hadirnya seorang imam dalam keluarga. Buku ini dilengkapi dengan pengalaman dan tips praktis sebagi inspirasi dalam ikhtiar menghadirkan imam ideal di setiap rumah tangga kita.

Rabu, 14 Mei 2014

4 Aktivitas Optimalkan Tumbuh Kembang Anak

Yuk, praktikkan empat aktivitas berikut ini agar tumbuh kembang anak jadi lebih optimal. Dijamin, si kecil jadi makin pintar, Bu!

Setiap orangtua tentu ingin memiliki anak yang mengalami tumbuh kembang optimal. Untuk itu, sejak masih bayi, buah hatimu harus terus distimulasi dengan berbagai aktivitas agar kemampuan motorik kasar dan motorik halusnya semakin meningkat. Inilah 4 aktivitas yang bisa kamu lakukan bersama bayi agar kecerdasan si buah hati terus bertambah.

1. Menyentuhnya

“Sentuhan adalah kebutuhan utama bayi,” kata Dr. Jean Clinton dari McMaster University, Hamilton, Ontario, Kanada. Itu sebabnya, bayi sangat suka bila digendong. Bahkan, mengangkatnya dari atau menaruhnya ke tempat tidur bisa sangat penting baginya, karena bayi akan bisa merasakan batas antara tubuhnya dan tubuh orang lain. Si bayi pun jadi mengerti atau bisa membedakan momen ketika dia sedang sendiri, atau ketika sedang bersama orang lain. Jadi, belailah anakmu sesering mungkin dan saat menggendongnya, dekap dia agar bisa merasakan hangatnya sentuhanmu, Bu!

2. Bermain Bersamanya

Ketika si kecil sudah mulai mengenali orang-orang dan lingkungan sekitarnya, ia akan senang bermain. Salah satu permainan yang paling disukai oleh bayi dan ternyata juga penting bagi perkembangan otaknya adalah permainan ciluk-ba. Lewat permainan itu, bayi akan belajar bahwa barang atau orang itu bisa hilang dan bisa muncul lagi. Kamu juga bisa mengajarkan bahwa ketika dia tidak bisa melihatmu, kamu tetap ada di dekatnya. Ketika anakmu sudah mulai besar, ajak dia bermain mencari barang yang disembunyikan di dekatnya. Buah hatimu pun akan belajar untuk berpikir sambil berusaha menemukan barangnya.

3. Membaca Untuknya

Jangan tunggu hingga anak berusia pra-sekolah baru mengajaknya membaca buku sama-sama. Kamu sudah bisa membacakan cerita untuknya sejak bayi, atau bahkan sejak kamu masih hamil. Apalagi, sekarang ini sudah ada berbagai buku dengan desain dan cerita menarik untuk para bayi kecil. Jadi, mereka bisa menajamkan indera-inderanya sambil “membaca” buku bersama kamu. Dari melihat gambar yang menarik, menekan tombol-tombol yang ada di buku, dan mendengar bunyi-bunyian yang dihasilkan. Riset membuktikan, para bayi baru lahir ternyata bisa mengenali buku yang dibaca oleh ibunya saat masih berada dalam kandungan. Luar biasa, bukan?

4. Berbicara Dengannya
Bayi kecil mungkin belum bisa menjawab ketika kamu mengajaknya bicara. Dia juga belum tentu memahami apa yang kamu katakan. Tapi mengajaknya bicara sejak masih bayi bisa membantunya mengembangkan kosa katanya nanti. Bayi yang sering diajak “ngobrol” oleh ibunya biasanya akan mulai belajar bicara (“gu-gu”, “da-da”) lebih cepat. Bahasa pertamanya ini adalah ekspresi bayi akan kebutuhannya untuk mulai berkomunikasi dengan orangtuanya. Karenanya, cobalah untuk lebih cerewet saat bersama bayi. Ajak dia bicara saat kamu mengganti popoknya, saat akan makan, atau saat bermain bersamanya. Ini bisa membuat anakmu lebih pintar bicara dan punya kosakata yang lebih banyak saat dia besar nanti.

http://on.fb.me/1dEP3fD

Metode Pembelajaran Kreatif dengan Alat Peraga “Boneka Tangan”

Scott and Ytreberg (1990) menjelaskan, “Their own understanding comes through hands and eyes and ears. The physical world is dominant at all times.”
Salah satu cara agar perhatian anak terpusat pada pembelajaran adalah penggunaan alat atau media pembelajaran yang efektif . Penggunaan hand puppet (boneka tangan) menjadi salah satu cara jitu yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Media pembelajaran sangat diperlukan karena berfungsi sebagai alat yang menarik perhatian dan menumbuhkan minat anak berperan serta dalam proses pembelajaran. Media pembelajaran juga berfungsi sebagai alat untuk menghindari verbalisme. Salah satu media pembelajaran dapat menggunakan boneka tangan.
Boneka adalah media yang sangat akrab dengan dunia bermain anak. Menurut Gallahue (Cahaya, S.I : 2007), bermain adalah suatu aktivitas langsung dan spontan di mana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda di sekitarnya dengan senang, sukarela, dan dengan imajinatif, menggunakan perasaannya, tangannya, atau seluruh anggota tubuhnya.
Melalui boneka tangan diharapkan anak akan lebih tertarik untuk mencoba menggunakan dan senang memainkannya secara langsung dengan jari-jari tangannya. Boneka tangan sangat populer bagi dunia bermain anak. Dengan menggunakan media boneka tangan diharapkan akan meningkatkan minat anak membaca.

Contoh penggunaan boneka tangan  ketika belajar:


Gunakan hand puppet sebagai model dalam memperkenalkan diri. contoh: Hello nama saya Sali dan Salikha. . . yuk kita membaca buku Halo Balita.  ayah dan bunda dapat merubah- rubah suara sesuai tokoh agar lebih menarik lagi.

Hand puppet juga dapat digunakan saat ayah dan bunda berdialog dengan anak baik secara klasikal maupun individual. Berdasarkan pengamatan, anak-anak sangat senang sekali jika diajak berdialog dengan hand puppet. Dijamin mereka akan mengacungkan tangan tinggi-tinggi agar diberi kesempatan untuk dekat dengan si boneka tangan.
Dan akhirnya berilah kesempatan kepada anak untuk memainkan boneka tangan sambil berdialog dengan ayah dan bunda.

Bagaimana ayah dan bunda? dari ulasan diatas,cukup membuka pikiran tentang manfaat boneka tangan (alat peraga) dalam proses pembelajaran? Semoga dapat membuka pikiran dan wawasan.

Sekarang dapat dipahami bersama bawa buku Halo Balita dirancang untuk mengajak anak belajar menyenangkan. Boneka tangan sali, saliha, dan kumi dapat digunakan untuk media penceritaan mengenai isi buku Halo Balita. Yuk mulai saat ini, jadi ayah dan bunda yang super kreatif. biar anak-anak pun jadi kreatif kelak setelah dewasa, seperti ayah dan bunda. hehe…

kalo ayah dan bunda lagi capek cerita pakai boneka tangan, kan ada e pen halo balita..
gak semua buku bisa di baca pakai e pen….karena buku halo balita di rancang khusus menggunakan coding sehingga bisa di baca pakai e pen. wuiihh canggih kan?
yuk ayah dan bunda jangan ragu.. order segera.. ^-^

Bagaimana Membuat Anak Keranjingan Membaca?



“Today a reader, tomorrow a leader.” (W. Fusselman)

Kalau ada hal-hal berharga yang dapat Anda wariskan pada anak Anda, maka percayalah salah satunya adalah kegemaran membaca.  Dan percayalah bahwa kegemaran anak membaca ini layak mendapatkan kucuran investasi waktu dan energi Anda.

Memang, anak-anak akan belajar keterampilan membaca di sekolah, tetapi sering kali yang mereka dapatkan hanyalah “tugas” membaca, bukan “kesenangan” membaca.  Akibatnya mereka justru kehilangan gairah membaca. Padahal justru gairah itulah, keingintahuan dan minat mereka, yang menjadi pondasi keberhasilan dalam memanfaatkan kebiasaan membaca serta keterampilan lain.

Cara paling efektif mendorong anak mencintai buku dan membaca adalah dengan membacakan buku untuk mereka. Semakin awal Anda memulai kebiasaan ini akan semakin baik. Bahkan bayi yang baru berusia beberapa bulan sudah mampu melihat gambar, mendengarkan suara Anda, dan membolak-balik buku karton (board book).


Jadikan waktu membaca bersama sebagai saat istimewa Anda bersama anak, tanpa gangguan TV atau telepon. Anda mungkin akan terkejut menemukan bahwa buku anak yang bagus akan menyenangkan, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi Anda sendiri!


Dan, ini penting, jangan menghentikan kebiasaan membaca buku dengan suara keras saat anak Anda sudah bisa membaca sendiri. Pada tahap ini, Anda bahkan bisa mendorong mereka membacakan buku untuk Anda. Kegembiraan bersama ini akan memperkuat minat dan penghargaan mereka terhadap kegiatan membaca.


Hal lain, penuhi rumah dan lingkungan sekeliling Anda dengan majalah, buku, koran, agar anak melihat berbagai bahan bacaan itu sebagai bagian kehidupan sehai-hari. Tentu saja, teladan kebiasaan membaca dari Anda sebagai orang tua pun akan memperkuat kecintaan membaca mereka.


Anda juga bisa mengajak anak membuat perpustakaannya sendiri sejak kecil. Lengkapi perpustakaan itu dengan koleksi buku yang dapat dengan bebas mereka pegang dan “mainkan”.  Anda bisa memasukkan buku-buku dari bahan kain untuk bayi, misalnya. Biarkan anak menyentuh, membaui, bahkan “mencicipi” buku (harfiah)  agar terbentuk ikatan yang kuat antara anak dengan buku.


Sikap Anda terhadap buku akan memengaruhi sikap anak Anda juga. Anak adalah peniru, jadi kalau mereka melihat Anda menikmati kebiasaan membaca dan menghargai buku, mereka pun akan melakukan hal serupa.

[pang/Mizan.com/diolah dari berbagai sumber]

cinta baca buku

Bukan suatu kesalahan jika ayah dan bunda belikan gadget, mainan, or baju2 branded untuk buah hatiny. karena itu adalah cara ayah bunda untuk menunjukkan cinta & perhatian pada mereka.

Tapiii gunakan dg bijak yaaa.. Dan jangan lupa sediakan juga BUKU2 untuk mereka.

Banyak sekali yg bisa didapat dr buku. Termasuk ilmu yg berguna.
Kita semua mau kan anak2 kita haus dengan ilmu? ^-^

yuuuk mulai anggarkan dana untuk BUKU.
sisihkan sedikiiiit saja sisa uang belanja perhari untuk investasi masa depan mereka.
Investasi buku ga akan pernah merugi.




Kebiasaan Buruk dalam Mengasuh Anak

Sebagai orangtua, Ayah-Bunda tentu ingin ananda berhasil di berbagai bidang. Secara alamiah, orangtua cenderung melindungi dan memberikan apapun yang dibutuhkan anak. Padahal, ada kalanya sikap ini menjauhkan anak dari potensi  sesungguhnya.

Berikut tujuh kebiasaan buruk orangtua dalam mengasuh yang dapat menjadi penghalang anak-anak untuk menjadi pemimpin hebat pada masa depan, baik bagi orang banyak maupun bagi diri sendiri.

1. Tidak membiarkan mengambil risiko

Hidup di dunia memang penuh bahaya. Sudah naluri orang tua melindungi anaknya. Namun, walaupun itu tugas dan kewajiban orangtua, tapi jika berlebihan dapat menjauhkan anak dari risiko yang sebenarnya baik untuk mereka. Psikolog Eropa menemukan bahwa anak-anak yang sering dilarang main di luar rumah dan tidak diberikan izin berkegiatan fisik yang berisiko terluka, cenderung memiliki fobia ketika dewasa. Anak-anak butuh jatuh agar dapat belajar bahwa kegagalan adalah sesuatu yang normal. Mereka butuh berhubungan dengan orang lain agar bisa merasakan kekayaan emosi yang dimilikinya. Jika orangtua menghilangkan risiko ini dari kehidupan anak, tanpa sadar sedang membesarkan pemimpin masa depan yang sombong dan memiliki harga diri rendah.

2. Menolong terlalu cepat

Ketika kita menolong anak  terlalu dini atau terlalu banyak, sesungguhnya kita sedang menghilangkan kebutuhan mereka untuk menemukan arah dan menyelesaikan permasalahan mereka sendiri. Cepat atau lambat mereka akan terbiasa mendapatkan pertolongan dari orangtuanya. Padahal cepat atau lambat mereka pun akan menjadi orang dewasa. Ketika kita tidak bisa lagi menolong mereka, mereka akan menjadi orang dewasa yang tidak cakap.

3. Terlalu mudah memberikan pujian

Kecenderungan pendidikan saat ini, anak yang berpartisipasi dalam suatu kegiatan biasanya diberikan penghargaan. Hal itu mungkin akan membuat anak merasa spesial. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Ketika melihat Ayah dan Ibu sebagai satu-satunya orang yang berpikir bahwa mereka luar biasa, anak akan meragukan objektivitas Anda sebagai orangtuanya. Ketika kita terlalu mudah memuji sikap mereka dan melupakan tindakan buruk mereka, anak-anak akan belajar menyontek, bersikap berlebihan, bahkan berbohong untuk menghindari kenyataan yang sulit karena mereka tidak dipersiapkan untuk menghadapinya.

4. Membiarkan rasa bersalah mengambil alih

Anak-anak tidak harus mencintai Anda sepanjang waktu. Ada kalanya mereka harus merasa kecewa kepada Anda. Perasaan ini tidak akan dapat dirasakan jika Anda memanjakan mereka. Jangan ragu-ragu untuk mengatakan “tidak” atau “bukan sekarang”.  Biarkan mereka berjuang untuk mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan dan butuhkan.

5. Tidak berbagi kesalahan masa lalu

Anak remaja yang sehat dan cerdas siap melebarkan sayapnya. Mereka harus melakukan segala hal dengan kemampuan mereka sendiri. Sebagai orang dewasa, orangtua harus membiarkan mereka. Namun, bukan berarti orangtua tidak dapat membantu saat diperlukan. Berbagi kesalahan yang relevan dengan pengalaman yang sedang dialami anak, khususnya ketika Anda masih seusia mereka, dapat membantu anak mengambil keputusan tepat. Mereka harus dipersiapkan pada konsekuensi atas segala pilihan yang diambil. Ceritakan bagaimana perasaan Anda ketika menghadapi hal serupa, apa alasan dibalik tindakan yang Anda ambil, dan apa hasil yang Anda terima. Ingatlah, kita bukan satu-satunya orang yang dapat memengaruhi anak-anak. Untuk itu kita harus menjadi pengaruh terbaik bagi anak.

6. Kecerdasan bukan kedewasaan

Kecerdasan sering digunakan sebagai alat ukur kedewasaan anak. Dengan demikian orangtua berpikir bahwa anak yang cerdas pasti sudah siap menghadapi dunia. Hal Ini jelas salah. Hanya karena mereka memiliki bakat di satu bidang tertentu, bukan berarti bakat ini mampu memenuhi seluruh bidang kehidupan mereka. Tentu saja tidak ada panduan yang rinci mengenai kapan anak-anak dapat diberikan kebebasan tertentu. Namun, Anda dapat melihat anak lain yang ada di sekitar anak Anda sebagai perbandingan. Jika mereka lebih mandiri dan bisa melakukan lebih banyak hal dibandingkan anak Anda, Anda mungkin harus berpikir ulang mengenai kebebasan yang akan diberikan kepada anak Anda.

7. Kita tidak memberi contoh

Orangtua berkewajiban menjadi contoh bagi kehidupan anak. Hal ini akan membantu mereka memiliki karakter tersendiri, mandiri, dan bertanggung jawab atas setiap kata-kata dan perbuatan. Sebagai pemimpin di rumah sendiri, orangtua dapat memulainya dengan berkata jujur. Kebohongan, dengan dalih kebaikan sekalipun, cepat atau lambat akan muncul ke permukaan. Hal itu sedikit demi sedikit mengikis karakter yang ingin Anda bentuk.

Jika Anda pikir bahwa tindakan yang diambil dipahami oleh orang dewasa, anak Anda pun pasti akan menyadarinya. Ajak mereka untuk menjadi sukarelawan dalam membantu lingkungannya. Hal ini merupakan cara efektif mengajari anak memberi tanpa pamrih.

[disarikan dari Forbes melalui mizan.com]